Selasa, 27 Januari 2015



After  black rose wilt
Teriknya cuaca menguras habis tenagaku. Waktu itu kali pertama aku mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa ( MOS ). Dengan menggunakan papan nama yang terbuat dari kertas, dan tali rafia. Awalnya aku malu dengan teman yang lain, karena tidak ada yang ku kenal selain Paulin yang suka bohong dan Ningtya yang penolong. Itu pun juga tidak begitu akrab. Akhirya aku akrab dengan 3 orang teman yang bernama Rasti, Rahma, dan Rana, atau sering aku panggil ketiganya 3R. Hari terus berlalu aku dan ke-3 temannku saling akrab. Tak terkecuali pada saat kami study tour ke Malang. Kami saling melengkapi satu sama lain. Dan salah satu kenanangan yang akan selalu ku ingat adalah perkataan Rana “ Kita adalah sahabat, kita harus berbuat baik antara kita berempat, dan selalu adil.
Pada bulan lalu kami bersama teman yang lain menuju ke rumah Rahma. Aku sudah dijemput, sehingga aku harus pulang dahulu lalu menuju ke rumah Rahma. Sesampainya rumah Rahma aku binggung. Karena Rasti dan Rana tidak kunjung tiba di rumah Rahma. Padahal kata Rahma mereka pergi ke rumahnya bersama – sama. Tiba – tiba terdengar suara gesekan sepatu dengan tanah. Ternyata itu gesekan sepatu Rasti dan Rana. Aku kaget kenapa Rasti membawa bunga mawar yang berwarna merah, putih, merah jambu. Lalu aku bertanya “ Ti, kamu dibelikan oleh siapa? Ibumu...” sambil tersenyum. Rasti menjawab bahwa ia dibelikan oleh pacarnya, maklum dia kan udah punya banyak mantan. Aku menjawab “ enggak mungkin, pacarmu kan rumahnya jauh. Kok bisa sampai kesini.” Rasti menjawab yang sebenarnya bahwa ia dibelikan oleh Rana. DEG...... jantungku serasa melonjak. Aku dan Rahma kaget mendengar pernyataan Rasti. Aku tidak menyangka bahwa Rana teganya hanya membelikan bunga kepada Rasti. Kalau satu sih enggak apa – apa, tapi kalau tiga sekaligus.....!!!. OH MY GOD, rasanya aku seperti dihianati oleh temannku yang selama ini dekat.
Setelah kejadian tesebut aku teringat kata – kata Rana yang hanya manis di mulut saja. Kata – kata itu membuatku yakin bahwa Rana hanya teman yang tidak tulus membantuku dalam kondisi apapun. Akhirnya masalahku ini terdengar sampai ke telinga Marlyn, Mita, dan Nindya. Mereka mendengar masalahku dengan tidak sengaja. Pada awalnya aku tidak begitu percaya bahwa mereka teman yang baik. Itu mungkin terjadi karena aku trauma dengan sifat Rana yang menganggap hanya teman yang tidak berguna. Tetapi ternyata aku salah. Mereka bertiga malah menyemangatiku di dalam kondisi apapun. Senang, sedih, galau, apapun mereka selalu mendukungku.
Satu bulan berlalu. Aku sudah tidak dapat memendam perasaan cemburuku ini. Akhirnya aku musuhan dengan Rana. Untung Marlyn, Mita, dan Nindya mengerti perasaanku dan perasaan Rahma. Aku seperti menemukan teman yang lebih banyak lagi, dan lebih adil denganku. Mereka selalu mendukungku dan menerima semua keluh kesahku di situasi apapun. Sampai saat ini aku masih tidak bisa memaafkan Rana. Sebenarnya aku juga tau itu tidak baik. Mau gimana lagi luka ini tidak kunjung sembuh. Malah bertambah parah. Aku sudah tidak tau menahu cerita ataupu curhatan Rana lagi. Itu lebih baik daripada menjadi musuh tetapi berteman.
Pada hari ini aku ingin Rana merasakan apa yang aku dan Rahma rasakan. Aku membawa 5 bunga, yang akan aku berika kepada Rahma, Marlyn, Mita, Nindya, dan Rasti. Akhirnya usaha itu berhasil. Walaupun Marlyn tidak mendapat bunga karena bunganya diminta oleh teman yang lain. Aku pun melihat gerak – gerik Rana. Puncak kesenanganku pada saat melihat bunga yang di pegang Rasti, dan bilang bahwa ia juga ingin bunga itu. Tetapi Rasti bilang bahwa itu dariku. Raut wajahnya pun lansung berubah seperti ikan  Baracuda. Saat pulang sekolah tiba. Aku pulang mengendarai sepeda yang berwarna merah dan biru. Di tengah jalan tiba – tiba aku di sambut oleh hujan. Karena aku kehujanan di dekat rumah Rahma, jadi aku berteduh di rumah Rahma. Tak disangka di sana ada Rana yang sedang di bermain hp qwertynya. Aku tidak ingin berlama – lama di rumah Rahma karena aku merasa menggangu Rana. lalu aku pulang sambil diiringi oleh hujan rintik – rintik. Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang pasti aku tidak tau karena yang menentuka nasib kita adalah TUHAN YANG MAHA ESA. Sepertinya hari esok akan menjadi seperti yang terjadi setelah mawar hitam layu.



by: Agnes Hendraswari Wahyu Pertiwi 

Inilah SMPN 1 WONOSARI jika dilihat dari Lab TIK, pada tahun 2015.