After black rose wilt
Teriknya cuaca menguras habis tenagaku. Waktu itu kali
pertama aku mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa ( MOS ). Dengan menggunakan
papan nama yang terbuat dari kertas, dan tali rafia. Awalnya aku malu dengan
teman yang lain, karena tidak ada yang ku kenal selain Paulin yang suka bohong dan
Ningtya yang penolong. Itu pun juga tidak begitu akrab. Akhirya aku akrab
dengan 3 orang teman yang bernama Rasti, Rahma, dan Rana, atau sering aku panggil
ketiganya 3R. Hari terus berlalu aku dan ke-3 temannku saling akrab. Tak
terkecuali pada saat kami study tour
ke Malang. Kami saling melengkapi satu sama lain. Dan salah satu kenanangan
yang akan selalu ku ingat adalah perkataan Rana “ Kita adalah sahabat, kita
harus berbuat baik antara kita berempat, dan selalu adil.
Pada bulan lalu kami bersama teman yang lain menuju ke rumah
Rahma. Aku sudah dijemput, sehingga aku harus pulang dahulu lalu menuju ke
rumah Rahma. Sesampainya rumah Rahma aku binggung. Karena Rasti dan Rana tidak
kunjung tiba di rumah Rahma. Padahal kata Rahma mereka pergi ke rumahnya
bersama – sama. Tiba – tiba terdengar suara gesekan sepatu dengan tanah.
Ternyata itu gesekan sepatu Rasti dan Rana. Aku kaget kenapa Rasti membawa
bunga mawar yang berwarna merah, putih, merah jambu. Lalu aku bertanya “ Ti,
kamu dibelikan oleh siapa? Ibumu...” sambil tersenyum. Rasti menjawab bahwa ia
dibelikan oleh pacarnya, maklum dia kan udah punya banyak mantan. Aku menjawab
“ enggak mungkin, pacarmu kan rumahnya jauh. Kok bisa sampai kesini.” Rasti
menjawab yang sebenarnya bahwa ia dibelikan oleh Rana. DEG...... jantungku
serasa melonjak. Aku dan Rahma kaget mendengar pernyataan Rasti. Aku tidak
menyangka bahwa Rana teganya hanya membelikan bunga kepada Rasti. Kalau satu
sih enggak apa – apa, tapi kalau tiga sekaligus.....!!!. OH MY GOD, rasanya aku
seperti dihianati oleh temannku yang selama ini dekat.
Setelah kejadian tesebut aku teringat kata – kata Rana yang
hanya manis di mulut saja. Kata – kata itu membuatku yakin bahwa Rana hanya
teman yang tidak tulus membantuku dalam kondisi apapun. Akhirnya masalahku ini
terdengar sampai ke telinga Marlyn, Mita, dan Nindya. Mereka mendengar
masalahku dengan tidak sengaja. Pada awalnya aku tidak begitu percaya bahwa
mereka teman yang baik. Itu mungkin terjadi karena aku trauma dengan sifat Rana
yang menganggap hanya teman yang tidak berguna. Tetapi ternyata aku salah.
Mereka bertiga malah menyemangatiku di dalam kondisi apapun. Senang, sedih,
galau, apapun mereka selalu mendukungku.
Satu bulan berlalu. Aku sudah tidak dapat memendam perasaan
cemburuku ini. Akhirnya aku musuhan dengan Rana. Untung Marlyn, Mita, dan
Nindya mengerti perasaanku dan perasaan Rahma. Aku seperti menemukan teman yang
lebih banyak lagi, dan lebih adil denganku. Mereka selalu mendukungku dan
menerima semua keluh kesahku di situasi apapun. Sampai saat ini aku masih tidak
bisa memaafkan Rana. Sebenarnya aku juga tau itu tidak baik. Mau gimana lagi
luka ini tidak kunjung sembuh. Malah bertambah parah. Aku sudah tidak tau
menahu cerita ataupu curhatan Rana lagi. Itu lebih baik daripada menjadi musuh
tetapi berteman.
Pada hari ini aku ingin Rana merasakan apa yang aku dan Rahma
rasakan. Aku membawa 5 bunga, yang akan aku berika kepada Rahma, Marlyn, Mita,
Nindya, dan Rasti. Akhirnya usaha itu berhasil. Walaupun Marlyn tidak mendapat
bunga karena bunganya diminta oleh teman yang lain. Aku pun melihat gerak –
gerik Rana. Puncak kesenanganku pada saat melihat bunga yang di pegang Rasti,
dan bilang bahwa ia juga ingin bunga itu. Tetapi Rasti bilang bahwa itu dariku.
Raut wajahnya pun lansung berubah seperti ikan
Baracuda. Saat pulang sekolah tiba. Aku pulang mengendarai sepeda yang
berwarna merah dan biru. Di tengah jalan tiba – tiba aku di sambut oleh hujan.
Karena aku kehujanan di dekat rumah Rahma, jadi aku berteduh di rumah Rahma.
Tak disangka di sana ada Rana yang sedang di bermain hp qwertynya. Aku tidak
ingin berlama – lama di rumah Rahma karena aku merasa menggangu Rana. lalu aku
pulang sambil diiringi oleh hujan rintik – rintik. Entahlah apa yang akan
terjadi selanjutnya. Yang pasti aku tidak tau karena yang menentuka nasib kita
adalah TUHAN YANG MAHA ESA. Sepertinya hari esok akan menjadi seperti yang
terjadi setelah mawar hitam layu.
by: Agnes Hendraswari Wahyu Pertiwi
